Malang – Menjadi mahasiswa di Kota Malang tidak hanya menuntut kemampuan akademik yang baik, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya yang beragam. Hal tersebut disampaikan Pustakawan Universitas Negeri Malang (UM), Teguh Yudi Cahyono, S.I.Pust., M.M., yang menilai masa kuliah merupakan fase penting dalam pembentukan karakter generasi muda.
Menurut Teguh, Malang memiliki keunikan sebagai kota pendidikan yang dihuni oleh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Kondisi tersebut menjadikan kota ini sebagai ruang belajar yang tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga di tengah masyarakat.
“Malang bukan sekadar tempat untuk menempuh pendidikan tinggi. Kota ini adalah ruang tumbuh yang memungkinkan mahasiswa belajar tentang keberagaman, budaya, dan kehidupan sosial secara langsung,” ujarnya kepada Tim Humas UM pada Sabtu (30/5).
Ia menjelaskan, banyak mahasiswa perantau yang datang ke Malang dengan fokus utama meraih gelar akademik. Padahal, pengalaman berinteraksi dengan masyarakat dan memahami budaya lokal juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
“Mahasiswa perlu menyadari bahwa keberhasilan kuliah tidak hanya diukur dari indeks prestasi. Kemampuan beradaptasi, membangun relasi sosial, dan menghargai perbedaan juga menjadi bekal penting setelah lulus,” kata Teguh.
Dalam aspek akademik, Teguh menekankan pentingnya membangun kebiasaan belajar yang mandiri sejak awal perkuliahan. Menurutnya, sistem pembelajaran di perguruan tinggi menuntut mahasiswa mampu mengelola waktu, menentukan target belajar, dan mengevaluasi perkembangan dirinya secara konsisten.
“Mahasiswa perlu memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia, seperti perpustakaan, ruang belajar bersama, komunitas akademik, hingga kesempatan berdiskusi dengan dosen. Semua itu dapat mendukung peningkatan kualitas pembelajaran,” jelasnya.

Lebih lanjut, Teguh mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak hanya pada aktivitas akademik. Keterlibatan dalam kehidupan sosial dinilai mampu memperkaya pengalaman dan memperluas wawasan.
“Jangan hanya berinteraksi dengan teman satu daerah atau satu program studi. Semakin beragam lingkungan pergaulan, semakin besar kesempatan mahasiswa belajar memahami perspektif yang berbeda,” tuturnya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif mengenal lingkungan tempat tinggal dan berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan. Menurutnya, langkah sederhana seperti menyapa tetangga, mengikuti kerja bakti, atau menghadiri kegiatan warga dapat membantu membangun hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar.
“Kedekatan dengan masyarakat lokal akan memberikan banyak manfaat, mulai dari rasa aman, jaringan sosial yang lebih luas, hingga pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan di Malang,” katanya.
Selain itu, Teguh menilai pemahaman terhadap budaya lokal menjadi salah satu kunci keberhasilan mahasiswa perantau dalam beradaptasi. Nilai-nilai seperti unggah-ungguh, gotong royong, dan penghormatan kepada orang yang lebih tua masih sangat dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakat Malang.
“Mahasiswa yang menghormati budaya setempat biasanya lebih mudah diterima oleh lingkungan. Menghargai budaya lokal bukan berarti meninggalkan identitas sendiri, tetapi belajar hidup berdampingan dengan penuh rasa hormat,” ujarnya.
Teguh juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan mental selama menjalani perkuliahan. Menurutnya, tekanan akademik, persoalan ekonomi, dan kerinduan terhadap keluarga sering menjadi tantangan yang dihadapi mahasiswa perantau.
“Mahasiswa tidak boleh mengabaikan kondisi psikologisnya. Ketika mengalami stres berlebihan, jangan ragu mencari bantuan, baik kepada teman, keluarga, maupun layanan konseling yang tersedia di kampus,” ungkapnya.
Ia menambahkan, olahraga teratur, pola hidup sehat, dan keberadaan teman yang dapat dipercaya menjadi faktor penting dalam menjaga kesejahteraan mental mahasiswa selama masa studi.
Pada akhirnya, Teguh berharap mahasiswa dapat memanfaatkan masa kuliah di Malang sebagai kesempatan untuk berkembang secara utuh, baik dari sisi akademik maupun karakter.
“Menjadi mahasiswa yang berhasil di Malang berarti mampu belajar dengan sungguh-sungguh, menghormati masyarakat dan budaya setempat, serta terbuka terhadap keberagaman. Di situlah nilai sesungguhnya dari pengalaman kuliah,” tutupnya.
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM
