Skip to content

Universitas Negeri Malang

Excellence In Learning Innovation

Pendaftaran SarjanaPendaftaran Pascasarjana
image_pdf
Naila Putri Dita Aulia menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dan analisis psikometri, untuk mengukur tingkat resiliensi, dukungan sosial, dan kesejahteraan psikologis responden.

Malang – Fenomena putus sekolah di kalangan remaja menjadi persoalan serius di Indonesia, termasuk Kota Malang. Berdasarkan data BPS tahun 2022, sekitar 18% remaja usia 16–18 tahun di Kota Malang tidak melanjutkan ke jenjang SMA/SMK, sementara lebih dari 40% usia 19–24 tahun tidak mengakses pendidikan tinggi. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada masa depan mereka, tetapi juga memengaruhi psikologis, seperti rasa rendah diri, tekanan, hingga keterasingan sosial.

Menanggapi isu ini, Naila Putri Dita Aulia, mahasiswa Magister Psikologi Universitas Negeri Malang (UM), bersama Dr. Nur Eva, S.Psi., M.Psi., Psikolog, melakukan penelitian tentang kesejahteraan psikologis (psychological well-being) remaja putus sekolah. Penelitian ini berlangsung sejak Januari hingga Juni 2025 dengan melibatkan 348 responden dari 10 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kota Malang.

Menggunakan pendekatan kuantitatif dan analisis psikometri, penelitian tersebut mengukur tingkat resiliensi, dukungan sosial, dan kesejahteraan psikologis responden. Hasilnya menunjukkan bahwa resiliensi dan dukungan sosial memainkan peran signifikan dalam membentuk kesehatan mental remaja.

“Kesejahteraan psikologis seseorang dipengaruhi oleh faktor internal seperti resiliensi dan faktor eksternal seperti dukungan sosial. Dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitar menjadi penguat ketahanan mental individu,” ujar Naila.

Dukungan sosial terbukti menjadi penyangga penting dalam membantu remaja menghadapi tekanan hidup. “Remaja yang merasa didukung secara emosional cenderung lebih kuat menghadapi tantangan. Dukungan sosial memberikan rasa aman dan menjadi sumber kekuatan psikologis,” tambahnya.

Penelitian ini menekankan bahwa remaja putus sekolah membutuhkan lebih dari akses pendidikan. Mereka memerlukan perhatian dan keterlibatan emosional untuk membangun kembali kepercayaan diri. Dengan resiliensi yang terasah dan dukungan sosial yang konsisten, para remaja ini dapat melampaui stigma negatif dan menggali potensi terbaik mereka.

β€œSetiap remaja memiliki kapasitas berkembang jika diberikan kesempatan serta lingkungan yang mendukung. Kita tidak boleh menutup jalan mereka hanya karena satu kegagalan,” pungkas Naila.

Pewarta: Luthfi Maulida Rochmah – Mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM

Share it