Skip to content

Universitas Negeri Malang

Excellence In Learning Innovation

Pendaftaran SarjanaPendaftaran Pascasarjana
image_pdf
Sumber: https://www.freepik.com/

[KESEHATAN]

Kasus bunuh diri yang dilakukan oleh mahasiswa kian marak terjadi. Tepat di tengah pelaksanaan UAS (Ujian Akhir Semester) penghujung tahun 2023, salah satu perguruan tinggi di Kota Malang menjadi saksi kasus bunuh diri yang dilakukan oleh mahasiswanya. Mengenai hal tersebut, Dewi Fatmasari Edy, S.Psi., M.A, Dosen Psikologi UM (Universitas Negeri Malang) turut memberikan reaksi.

“Perihal kesehatan mental itu memang perihal yang sensitif. Isu tentang mahasiswa bunuh diri di Malang itu tidak hanya yang terjadi di salah satu kampus, di lain itu juga ditemui kasus bertempat di Jembatan Suhat, maupun kasus bunuh diri sekeluarga kemarin. Kita tidak bisa langsung memberikan pernyataan bahwasannya pelaku mengalami stress atau depresi berat. Hal ini dikarenakan ada banyak hal yang berpotensi menjadi faktor untuk diteliti lebih mendalam. Untuk kebenarannya sendiri, yang paling mengetahui tentu saja pelaku aksi bunuh diri itu sendiri. Akan tetapi, karena situasi yang tidak memungkinkan, kita bisa menggali informasi melalui keluarga, kerabat, ataupun orang terdekat dari pelaku dan data” ungkap Dewi Fatmasari.

Tidak hanya bunuh diri, perilaku self-harm juga membutuhkan perhatian khusus. Dewi Fatmasari Edy, S.Psi., M.A. menyampaikan bahwasannya perilaku self-harm yang dilakukan seseorang itu merupakan ekspresi yang diutarakan agar rasa sakit yang ada dalam dirinya bisa meluap dengan menyakiti fisiknya. Tindakan tersebut menjadi salah satu bentuk strategi mengatasi stress yang keliru. Beliau pun memaparkan terdapat banyak sekali faktor yang menjadi pemicu seseorang bertindak self-harm dan mungkin dapat berujung pada keputusan bunuh diri. Pertama, faktor kerentanan. Perlu menelusuri apakah pernah memiliki riwayat serupa sebelumnya. Kedua, kesehatan. Tidak hanya kesehatan secara fisik, tetapi juga kesehatan mental pelaku. Seseorang mengambil keputusan perihal pilihan mengakhiri hidupnya atau menyakiti dirinya, tentunya ada pemicunya. Sehingga perlu hal apa saja yang memicu pemikiran tersebut muncul. Ketiga, hubungan sosial pelaku dengan lingkungan di sekitar, entah itu keluarga, sekolah, hingga dalam kehidupan bermasyarakat. 

Kasus bunuh diri  juga dihadirkan di dalam kelas pembelajaran di Fakultas Psikologi UM untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut. Sehingga UM memberikan kontribusi dalam lingkup akademis dengan upaya menguatkan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, penguatan dalam bidang pendidikan. 

Terkait maraknya kasus bunuh diri ini, UM sangat terbuka memberikan pelayanan konsultasi kepada civitas akademik. PBK3 (Pusat Bimbingan Konseling, Karir, dan Kewirausahaan) merupakan fasilitas UM kepada dosen, mahasiswa hingga tendik untuk memberikan pelayanan bimbingan dan konseling. PBK3 UM mengadakan berbagai kegiatan, salah satunya penguatan konselor sebaya yang tergabung dalam Peer Counseling Corner (PCC) dimana harapannya terdapat mahasiswa dari setiap fakultas untuk mendampingi atau membersamai rekan-rekan yang membutuhkan pendampingan. Kegiatan konseling yang ditawarkan oleh PBK3 UM dapat dilakukan secara offline maupun online

Mengapa UM perlu menyediakan wadah untuk konseling?  Tidak dapat dipungkiri bahwasannya mahasiswa yang ada di UM, tidak hanya mereka yang berdomisili atau menetap di Kota Malang. Banyak mahasiswa perantauan yang jauh dari orang tua, dan fase mahasiswa baru juga menjadi masa peralihan dari Sekolah Menengah Atas (SMA) ke perguruan tinggi. Sehingga tidak jarang mahasiswa akan mengalami culture shock dengan segala perbedaan yang multikultural di lingkungan kampus. Lalu bagaimana sih cara yang dapat kita lakukan ketika menghadapi teman yang sedang melakukan self-harm atau menyakiti diri?? 

Dewi Fatmasari Edy, S.Psi., M.A membagikan tips menangani teman dengan kondisi di atas, “Langkah awal yang bisa kita lakukan adalah kita harus membuat dia menyadari bahwa ada orang di sekitarnya yang senantiasa peduli dan siap mendengarkan. Karena support system bagi mereka pelaku self-harm itu sangat penting ketika self respect– nya sedang menurun. Lalu, hindarkan pelaku dari benda-benda tajam yang berpotensi besar digunakan untuk menyakiti dirinya.”

Oleh karena itu, penting bagi setiap manusia membangun self awareness, dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan yang terdapat pada dirinya supaya perilaku membandingkan diri dengan orang lain dapat ditekan seminimal mungkin. “Kalau kata orang bijak, manusia itu harusnya membandingkan dirinya dengan yang kemarin. Bukan malah membandingkan dirinya dengan orang lain yang tentu saja berbeda dari segi latar belakang, ekonomi, status sosial, prosesnya dan lain sebagainya,” pesan Dewi Fatmasari 

Setelah mengetahui self awareness melalui refleksi, perkuat diri dengan meningkatkan literasi bersumber rujukan yang benar. Langkah berikutnya adalah melakukan pengembangan diri atau self development. Menentukan arah maupun tujuan hidup akan lebih terasa mudah dengan kita menyadari apa kekuatan yang kita miliki.

Dosen muda ini juga berpesan, “Mari kita membiasakan diri untuk berefleksi, mampu mengambil hikmah melalui kejadian yang ada. Dari kasus bunuh diri yang terjadi, kita bisa semakin aware terhadap pentingnya melakukan penguatan terhadap diri sendiri. Meningkatkan daya survive, adversity, maupun resilience diri ketika sedang menghadapi masalah lalu bangkit kembali. Saya pun berpesan bagi yang sedang mengalami kesulitan menghadapi masalah, jangan ragu untuk meminta bantuan jika memang diperlukan.”

Pewarta : Hania Nuha Tsabita – Internship Humas UM.

Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM

Share it