
Menjadi seorang mahasiswa tentu saja memiliki banyak hal yang diinginkan atau cita-cita untuk dicapai, diupayakan, dan dikerjakan dengan gigih demi meraih prestasi agar mampu memperoleh kebanggaan dalam diri sendiri, keluarga, dan institusi universitas. Hal ini juga terjadi pada Mahasiswa program studi S1 Bioteknologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM), Rafki Afza Amri. Ia berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah prestasi mahasiswa UM dengan meraih penghargaan sebagai 20 tim terbaik dari keseluruhan peserta sejumlah 1000 tim pada program Bangkit 2023.
Program Bangkit 2023 merupakan bagian dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang termasuk dalam kategori Studi Independen Bersertifikat dengan konversi beban belajar 20 satuan kredit semester (SKS). Program kesiapan karier ini bertujuan untuk menghasilkan mahasiswa berkompetensi tinggi yang nantinya dapat bekerja di perusahaan teknologi Indonesia kelas dunia dan Startup. Program berlangsung selama 6 bulan, dari bulan Februari sampai bulan Juni dengan rincian 4 bulan belajar secara mandiri melalui platform yang sudah ditentukan oleh program bangkit serta kelas ILT dari program bangkit dan 1 bulan untuk mengerjakan capstone serta 1 bulan untuk finalisasi nilai dan penilaian capstone.
Tentunya, program ini sepenuhnya didukung penuh oleh Google, GoTo (Gojek dan Tokopedia), dan Traveloka. Bangkit terbagi menjadi 3 learning path, yaitu; Mobile Development, Cloud Computing, dan Machine Learning.
“Untuk timku sendiri mengambil Machine Learning dikarenakan untuk melakukan pendaftaran diperlukan beberapa mata kuliah tertentu yang harus sudah diambil,” ujar Rafki, peraih penghargaan 20 tim terbaik.
Rafki beserta tim mengembangkan sebuah project yang berfokus di bidang pertanian berupa IoT Box yang berisi berbagai macam sensor yang nantinya dapat menghasilkan data dari keadaan lingkungan pertanian. Selain itu, alat ini juga dapat memberikan data kondisi langit secara real time untuk mengetahui cuacanya dan nantinya data-data ini akan dikirimkan ke apps dan dapat diakses oleh petani. Para petani juga dapat menyalakan serta mematikan pompa yang berada di sawah menggunakan tombol yang tertera di aplikasi.
“Hal ini kami harapkan akan memudahkan para petani dengan tidak perlu ke lahan pertanian untuk memeriksa kondisi tanaman maupun tanah yang ada. Alat kami ini pun disokong dengan menggunakan solar panel sebagai sumber energinya dengan tujuan untuk mendukung program pemerintah untuk peralihan menuju energi terbarukan,” jelas Rafki.
Sebagai peraih penghargaan 20 tim terbaik dengan mendapatkan pendanaan sebesar 140 juta dari perusahaan Google dan Dikti, persiapan yang dilakukan Rafki pun tidaklah mudah dengan background dirinya mahasiswa dari jurusan non-IT. Akan tetapi, Rafki pun tetap gigih berusaha sehingga dapat menuliskan namanya dalam sejarah mahasiswa berprestasi di UM.
“Program bangkit itu tidak mudah, terutama untuk mahasiswa jurusan non-IT seperti ku. Akan tetapi buat yang diterima MSIB Bangkit batch selanjutnya, santai aja sih menjalankannya, karena bangkit itu tempat yang aman kok buat belajar. Untungnya bangkit ini full support dan memberi apapun yang aku atau timku butuhkan. Pesan terakhir, semoga mahasiswa UM ada yang bisa menang lagi di capstone product/company dan dapat dilirik sama perusahaan besar yang bekerja sama dengan bangkit,” pesan Rafki untuk seluruh mahasiswa UM yang ingin berjuang di Program Bangkit selanjutnya.
Pewarta: Zalfa Awwala Q.A – Internship Humas UM
Editor: Luthfi Maulida Rochmah
