
Malang – Fahrudi Ahwan Ikhsan, pria sederhana asal Jember yang sempat tidak naik kelas saat SD karena belum bisa membaca, kini mencatatkan namanya sebagai wisudawan terbaik Program Doktor (S3) Universitas Negeri Malang (UM) periode ke-132. Fahrudi menyebut dirinya bukan orang hebat, melainkan seorang “doktor pemimpi” yang dulu sempat ditertawakan.
Lahir pada 18 April 1989, Fahrudi adalah dosen di Universitas Jember. Perjalanan akademiknya dimulai tanpa rencana besar untuk melanjutkan studi. Namun, rasa ingin tahu membawanya duduk diam-diam di luar kelas magister dan doktor di berbagai kampus di Surabaya. “Saya hanya ingin tahu, kuliah magister atau doktor itu seperti apa,” kenangnya.
Pada tahun 2011, di sebuah kontrakan kecil di Pulo Wonokromo, ia menulis mimpinya: menyelesaikan S3 pada usia 33 tahun. Tepat di hari ulang tahunnya, ia diterima sebagai mahasiswa doktoral di Prodi Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial UM.
Motivasi terbesar Fahrudi datang dari ibunya, yang sering bertanya tentang gelar “doktor” saat melihat tokoh berbicara di TVRI. “Saya studi doktor untuk membahagiakan ibu dan bapak,” ujarnya penuh haru.
Meski penuh tantangan, ia berhasil menjaga keseimbangan antara logistik, tugas domestik, dan akademik. “Studi S3 itu soal mental, bukan sekadar otak,” katanya. Disertasinya berjudul Pengembangan Buku Referensi Geografi Lingkungan bertujuan meningkatkan literasi mahasiswa melalui pendekatan 5M: membaca, meneliti, menulis, mempublikasikan, dan membelajarkan.
Di tengah perjuangan, Fahrudi memilih cara sederhana untuk menjaga semangat: jalan-jalan tanpa tujuan atau nongkrong di warung kopi. “Kalau memahami isi disertasi, kita pasti bisa menulisnya,” tegasnya.
Ketika diumumkan sebagai wisudawan terbaik, Fahrudi merasa tertegun. Prestasinya tidak hanya soal akademik, tapi juga perjalanan panjang penuh dedikasi. Wajah bahagia sang ibu yang bertanya lirih, “Benar sudah selesai, Le?” menjadi penutup indah perjuangannya.
Fahrudi membuktikan bahwa pendidikan adalah hak semua orang, terlepas dari keterbatasan. “Mimpi itu murah, yang mahal adalah prosesnya,” tutupnya penuh makna.
Pewarta: Trisna Marsadi – Internship Humas UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM
