Skip to content

Universitas Negeri Malang

Excellence In Learning Innovation

Pendaftaran SarjanaPendaftaran Pascasarjana
image_pdf

Di tengah arus transformasi digital, riset unggulan Prof. Aji Prasetya Wibawa S.T., M.MT., Ph.D. dari Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan inovasi yang memadukan kecerdasan buatan dengan pelestarian budaya Nusantara. Melalui pendekatan Artificial Intelligence (AI) berbasis Convolutional Neural Network (CNN), tim peneliti berhasil mengembangkan sistem yang mampu mengenali identitas keris, salah satu warisan budaya Indonesia yang sarat nilai sejarah, seni, dan filosofi.

Penelitian yang dipimpin oleh Prof. Aji Prasetya Wibawa ini berfokus pada klasifikasi tiga unsur utama keris, yakni pamor (pola pada bilah), dhapur (bentuk bilah), dan tangguh (perkiraan era atau usia keris). Ketiga unsur tersebut selama ini menjadi penanda penting dalam memahami nilai budaya dan autentisitas sebuah keris.

“Keris bukan sekadar benda pusaka, tetapi representasi identitas budaya Nusantara yang memuat sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal. Dengan teknologi AI, kami ingin menghadirkan cara baru untuk menjaga dan mengenalkan warisan ini kepada generasi muda,” ungkap Prof. Aji.

Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan 1.910 citra keris yang dikumpulkan dari berbagai sumber, kemudian dianalisis menggunakan model deep learning. Sistem ini dilatih untuk membaca pola visual yang sangat kompleks, termasuk puluhan jenis pamor yang selama ini hanya dapat dikenali oleh empu atau ahli keris.

Hasilnya cukup membanggakan. Pada skenario pemrosesan terbaik, sistem mampu mencapai akurasi hingga 80% dalam mengidentifikasi pola pamor. Capaian ini menunjukkan bahwa teknologi AI memiliki potensi besar untuk mendukung pelestarian artefak budaya Indonesia secara lebih sistematis dan modern.

Lebih jauh, riset ini lahir dari keprihatinan terhadap menurunnya ketertarikan generasi muda terhadap budaya tradisional. Keris, yang telah diakui sebagai simbol budaya bangsa dan memiliki nilai adiluhung, sering kali dipandang sebagai artefak masa lalu. Melalui inovasi digital, tim peneliti berharap keris dapat kembali hadir dalam ruang belajar, aplikasi edukasi, museum digital, hingga platform interaktif berbasis teknologi. Riset ini juga memperkuat pesan bahwa modernisasi tidak harus menggeser budaya lokal. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi medium untuk memperkuat identitas bangsa.

“Ini adalah bentuk nyata bagaimana sains data dan budaya dapat berjalan berdampingan. AI bukan hanya untuk industri, tetapi juga dapat menjadi alat pelestarian warisan Nusantara,” tambahnya.

Melalui penelitian ini, UM kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus yang tidak hanya unggul dalam inovasi teknologi, tetapi juga aktif menjaga akar budaya Indonesia. Keris, sebagai simbol peradaban Nusantara, kini menemukan ruang baru di era kecerdasan buatan.

 

 

Share it