Skip to content

Universitas Negeri Malang

Excellence In Learning Innovation

Pendaftaran SarjanaPendaftaran Pascasarjana
image_pdf
Seminar “Penguatan Moderasi Beragama dan Bela Negara bagi Kepala Sekolah dan Guru SMP

Radikalisme merupakan tantangan yang nyata dalam kehidupan beragama dan bernegara di Indonesia. Sebisa mungkin pemahaman tersebut diantisipasi keberadaannya dari lingkungan sekolah. Oleh karena itu, Tim Pengabdian Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Negeri Malang (UM) yang diketuai oleh Prof. Dr. Yusuf Hanafi, S. Ag, M. Fil, I mengadakan kegiatan seminar “Penguatan Moderasi Beragama dan Bela Negara bagi Kepala Sekolah dan Guru SMP”. 

Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin, 31 Juli 2023 di Aula Masjid Dafa Shofia Pondok Pesantren Darul Faqih Malang Indonesia ini dihadiri oleh puluhan Kepala Sekolah dan Guru PAI SMP Negeri dan Swasta di Kabupaten Malang. 

Kepala Sekolah SMP Darul Faqih, Alifudin Ikhsan, M. Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa sekolah di Malang Raya siap menjadi sekolah kader moderasi beragama dan bela negara. “Terima kasih kepada Kepala Sekolah yang sudah hadir dalam kegiatan ini, dan terimakasih juga kepada LP2M UM yang telah mendukung penuh kegiatan ini dan kita siap menjadi kader moderasi beragama di sekolah masing-masing” ujarnya. 

Kegiatan ini menghadirkan 2 narasumber untuk menyampaikan materi. Materi pertama tentang “Pengarustamaan Moderasi Beragama untuk Harmoni Bangsa” disampaikan oleh Prof. Dr. Yusuf Hanafi, S. Ag, M. Fil, I., sedangkan materi kedua tentang “Menalar Keberagaman: Analisis Gunung Es dan Proses U” disampaikan oleh Dr. Faris Khoirul Anam, Lc, M. Hi. 

Seminar “Penguatan Moderasi Beragama dan Bela Negara bagi Kepala Sekolah dan Guru SMP

Dalam sesi pemaparan materi, Prof. Yusuf, menyampaikan tahapan seseorang yang terkena paham radikalisme hingga menjadi seorang teroris. Selain itu, beliau juga menjelaskan bagaimana agar paham tersebut tidak sampai terjadi di sekolah dan dicegah sedini mungkin. “Jadi ada 3 tahapan orang terkena paham radikalisme, tahapan ini diawali dengan 1) pengenalan dan penanaman (indoktrinasi), 2) penghayatan dan penguatan (militansi & kristalisasi), dan 3) gerakan & aksi (terorisme). Seharusnya sebagai seorang muslim kita memiliki paradigma berpikir Moderasi Beragama melalui 3 asas, yakni pemahaman terhadap 1) Keagamaan (Hadarah Nash), 2) Keindonesiaan (Hadharah Ilm), dan 3) Kemanusiaan (Hadharah Falsafah)” Ujar Guru Besar  Bidang Dirasat Islamiyah ini.

Pada sesi kedua Dr. KH. Faris menyampaikan tentang analisis fenomena gunung es tentang terjadinya fenomena radikalisme dan cara penanganannya. Para peserta tampak antusias mengikuti penyampaian materi beserta Focus Group Discussion (FGD) sesuai tema yang ditentukan. 

Dua hal yang penting yang menjadi bahasan di sesi 2 ini yakni Analisis Peristiwa dan Membangun Gerakan Moderasi Beragama. “Kejadian terorisme bak gunung es yang tidak bisa kita lihat dari wujudnya saja tetapi kita harus memperdalam apa yang terjadi dibaliknya, mulai dari pola dan trennya, sistem struktur, hingga mental modelnya. Dari sinilah kita bisa membangun gerakan dengan 3 cara, yakni: Rethinking, Redesigning, dan Reframing” Ujar Dosen UM yang juga menjadi Trainer Moderasi Beragama Kemenag RI ini. Kegiatan diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan kepada sekolah yang hadir sekaligus menjadi bukti  komitmen untuk menjadi sekolah yang menjunjung tinggi moderasi beragama dan bela negara. 

Pewarta: Arya Wahyu Pratama, S. Pd – Alumni S1 Pendidikan Bahasa Arab UM

Editor: Luthfi Maulida Rochmah

Share it