
Malang – Cinta bukan sekadar perasaan, melainkan fondasi utama dalam membentuk karakter dan empati generasi muda. Semangat inilah yang ditegaskan Universitas Negeri Malang (UM) melalui Seminar Nasional bertema “Mengintegrasikan Cinta, Kolaborasi, dan Perangkat Pembelajaran Mendalam bagi Generasi Emas Indonesia” pada Senin (3/11). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Mata Kuliah Universitas, Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) UM.
Seminar menghadirkan dua narasumber utama, yakni Dr. Yuliati Siantajani, M.Pd., Direktur LKP Sinau Seumur Hidup sekaligus Ketua Yayasan Sanggar Aksara, serta Dr. Dra. Hj. Umi Dayati, M.Pd., dosen UM dan motivator level ASEAN.
Dalam sambutannya, Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. menegaskan bahwa cinta dalam konteks pendidikan bermakna proses menjadi, bukan sekadar rasa memiliki. “Cinta adalah keinginan untuk melihat orang yang kita cintai tumbuh. Begitu pula pendidikan, guru perlu mencerdaskan dirinya sebelum mencerdaskan orang lain,” ujarnya.
Prof. Hariyono juga menekankan bahwa konsep cinta dalam pendidikan telah lama diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Lembaga pendidikan, menurutnya, seharusnya menjadi taman yang menyenangkan, tempat peserta didik bertumbuh dengan empati, tanggung jawab, dan kemandirian. Ia menilai, makna bermain kini kerap disalahartikan sebagai kebebasan tanpa arah. “Bermain bukan main-main. Dalam bermain ada keseriusan, dan di situlah cinta serta kolaborasi berperan penting,” tegasnya.
Melalui seminar ini, UM berupaya menanamkan nilai cinta sebagai inti dari pembelajaran kolaboratif dan mendalam. Dengan menghidupkan semangat kasih dan tanggung jawab sejak dini, UM berharap lahir generasi emas Indonesia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter, empatik, dan kreatif.
Pewarta: Inayah Amalia Taufani – Internship Humas UM
Fotografer: Agil Afzal Mahfud – Internship Humas UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM
