Skip to content

Universitas Negeri Malang

Excellence In Learning Innovation

Pendaftaran SarjanaPendaftaran Pascasarjana
image_pdf

Malang — Universitas Negeri Malang (UM) terus memperkuat jejaring riset internasional melalui partisipasi pada forum Best Practice RI–EU Science & Technology Collaboration yang digelar Rabu (22/4). Forum ini menjadi panggung strategis bagi UM untuk memperkuat kolaborasi riset dengan mitra dari negara-negara Uni Eropa.

Dalam kegiatan tersebut, UM diwakili Wakil Rektor III Prof. Markus Diantoro serta Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Prof. Aji Prasetya Wibawa. Forum dibuka oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia bersama Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia.

Wakil Rektor III UM, Prof. Markus Diantoro, menegaskan bahwa forum ini merupakan kelanjutan dari agenda sebelumnya yang berfokus pada pembukaan akses kerja sama riset dengan Uni Eropa.

“Ini forum kedua yang saya ikuti. Tahun lalu sifatnya launching European access, sedangkan kali ini lebih pada praktik baik dan peluang kolaborasi konkret antara Indonesia dan Uni Eropa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, skema pendanaan riset dalam program tersebut sepenuhnya berasal dari Uni Eropa. Namun, pengajuan proposal dilakukan oleh institusi di negara-negara Uni Eropa dengan melibatkan perguruan tinggi Indonesia sebagai mitra.

“Dana riset semuanya dari Uni Eropa. Mekanismenya, universitas di sana yang mengajukan proposal, kemudian menggandeng mitra dari Indonesia,” jelasnya.

Sinyal kuat kolaborasi global juga tercermin dari tema utama forum, yakni Climate Resilient through Applied Science and Technology for Sustainability Climate Solution. Tema ini menegaskan pentingnya inovasi berbasis sains dan teknologi untuk menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan.

Dalam forum tersebut, konsep green engineers mencuat sebagai gagasan kunci. Istilah ini merujuk pada sumber daya manusia yang menghasilkan solusi teknologi ramah lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, energi terbarukan, mitigasi pencemaran, hingga peningkatan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan.

Green engineers adalah teknokrat atau inovator yang bekerja menyelesaikan persoalan lingkungan. Ini konsep yang sangat relevan dengan kebutuhan global saat ini,” kata Markus.

Salah satu praktik baik yang dipaparkan adalah inovasi pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif berkalori tinggi. Inovasi ini menunjukkan bahwa sampah dapat diubah menjadi sumber energi bernilai melalui riset dan rekayasa teknologi.

Langkah progresif UM dinilai selaras dengan penguatan program green campus, pusat lingkungan dan mitigasi kebencanaan, serta implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Fokus tersebut terutama mendukung SDG 7 (Affordable and Clean Energy) dan SDG 13 (Climate Action).
“UM sudah memiliki banyak program yang sejalan, mulai dari pengelolaan sampah, penguatan green campus, hingga berbagai riset internal yang berkaitan dengan keberlanjutan,” ungkapnya.

Untuk mempercepat capaian tersebut, UM membentuk tim internal guna meningkatkan proposal hibah internasional dengan mengonsolidasikan dosen, peneliti, serta jejaring mitra global.

“Kami ingin riset UM tidak hanya berdampak secara lokal, tetapi juga diakui dunia melalui kolaborasi internasional,” tegas Markus.

Selain itu, UM tengah menyiapkan SDG Dashboard Center sebagai instrumen pemetaan dan penguatan capaian keberlanjutan universitas. Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi peningkatan reputasi menuju world class university.

Melalui forum RI–EU ini, UM menargetkan semakin banyak dosen dan peneliti terlibat dalam kerja sama internasional, sekaligus melahirkan inovasi berdampak nyata bagi masyarakat luas.

Pewarta: Inayah Amalia Taufani – Internship Humas UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM

Share it