Skip to content

Universitas Negeri Malang

Excellence In Learning Innovation

Pendaftaran SarjanaPendaftaran Pascasarjana
image_pdf
Tim pengabdian Universitas Negeri Malang bersama mitra kolaborasi Batik Wenangkayana dalam program pengabdian yang mengusung strategi brand identity berbasis digital ecosystem

Malang – Dorongan kuat untuk mempercepat hilirisasi produk lokal membuat Universitas Negeri Malang (UM) semakin giat dalam mengembangkan strategi brand identity berbasis digital ecosystem bagi Batik Wenangkayana. Program ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat UM tahun 2025, didanai melalui sumber Non-APBN dengan nomor kontrak 24.2.1017/UN32.14.1/PM/2025, sekaligus mendukung pencapaian SDGs 17 tentang kemitraan berkelanjutan.

Batik Wenangkayana dikenal sebagai warisan budaya yang memiliki nilai estetika dan potensi ekonomi tinggi. Namun, tantangan globalisasi menuntut penguatan identitas merek agar batik lokal mampu bersaing di pasar digital yang kompetitif.

Dalam pengabdian bertajuk “Pengembangan Strategi Brand Identity Batik Wenangkayana Berbasis Digital Ecosystem untuk Mendorong Hilirisasi Produk Lokal yang Berkelanjutan”, ketua pelaksana kegiatan, Abdul Rahman Prasetyo, S.Pd., M.Pd., menegaskan pentingnya pembaruan strategi. 

“Kami ingin Batik Wenangkayana tidak hanya dikenal karena motifnya, tetapi memiliki citra merek yang kuat, profesional, dan mudah dikenali. Melalui ekosistem digital, pengrajin bisa mengelola produknya secara mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pengembangan brand identity ini memadukan pendekatan kreatif dan teknologi digital melalui platform pemasaran, media sosial, serta sistem manajemen produk yang terintegrasi. Langkah tersebut memudahkan pelaku usaha dalam mempromosikan, menjual, hingga mengelola inventori secara lebih efektif.

Program ini juga memperkuat kolaborasi antara pengrajin, desainer, pelaku industri kreatif, dan komunitas lokal. 

“Kolaborasi menjadi roh kegiatan ini. Tanpa kemitraan yang solid, pengembangan ekonomi berbasis budaya sulit tumbuh berkelanjutan,” tambah Abdul Rahman.

Selain penguatan identitas merek, kegiatan ini membekali para pelaku usaha batik dengan keterampilan edupreneurship, inovasi desain, dan pemasaran digital. Upaya tersebut diharapkan mendorong daya saing Batik Wenangkayana di tingkat nasional maupun internasional.

Kontribusi program ini sejalan dengan SDGs 17, yang menekankan pentingnya jejaring kemitraan. Dengan ekosistem digital yang terarah, Batik Wenangkayana diproyeksikan memiliki posisi pasar lebih kuat sekaligus membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi langkah strategis UM dalam mentransformasi produk seni rupa tradisional melalui teknologi digital dan kewirausahaan kreatif. 

“Kami percaya, kekuatan budaya lokal harus berjalan seiring dengan kemajuan teknologi. Ketika keduanya berpadu, lahirlah inovasi yang memperkuat identitas bangsa di tingkat global,” tutup Abdul Rahman.

Pewarta: Luthfi Maulida Rochmah – Mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan

Editor: Aliza Nur Sabila – Humas UM

Share it