Skip to content

Universitas Negeri Malang

Excellence In Learning Innovation

Pendaftaran SarjanaPendaftaran Pascasarjana
image_pdf
Diskusi film berjalan interaktif dengan antusias dari peserta

Malang – Kegiatan ReelOzInd! Australia-Indonesia Short Film Festival 2024 kembali digelar untuk memperkuat hubungan internasional, dengan Universitas Negeri Malang (UM) menegaskan komitmennya dalam acara pemutaran dan diskusi film yang berlangsung pada Jumat (22/11/) di Gedung A20, Mini Teater Lantai 7 UM. Acara ini diinisiasi oleh Departemen Sastra Inggris, UPT Kantor Urusan Internasional (KUI), dan UPT Perpustakaan UM, serta bekerja sama dengan Australia Indonesia Institute sebagai penyelenggara festival.

“Melalui wahana film ini, kita ingin hubungan Indonesia dan Australia, terutama yang melibatkan anak muda, menjadi lebih erat,” ujar Evi Eliyanah, S.S., M.A., Ph.D., Direktur UPT KUI UM.

Acara ini berhasil menarik perhatian sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari siswa SMA, mahasiswa, dosen, hingga masyarakat umum. Dua narasumber ahli turut dihadirkan untuk memandu sesi diskusi, yakni Prawinda Putri Anzari, S.I.Kom., M.Si., dosen Ilmu Komunikasi UM, dan Dr. Elly Kent, peneliti sekaligus dosen dari Australian National University (ANU).

Sebanyak sepuluh film pendek ditayangkan dengan mengangkat isu-isu relevan seperti hak asasi manusia, dampak teknologi, marginalisasi suku Aborigin, ketimpangan gender, hingga persoalan ringan seperti cara makan bubur. Pemilihan tema keberagaman dalam festival ini memberikan ruang refleksi dan pemahaman lintas budaya.

“Film indie adalah wadah menyuarakan isu sensitif dan marjinal. Tanpa kehadiran kru film, kita bebas menginterpretasikan sesuai perspektif masing-masing,” ungkap Prawinda saat diskusi. Sementara itu, Dr. Elly menambahkan, “Bahkan dari perdebatan kecil seperti bubur diaduk atau tidak, kita bisa belajar tentang keberagaman pemikiran.”

Diskusi berjalan interaktif dengan antusias dari peserta, termasuk mahasiswa asing dari Thailand dan siswa SMA. Isu ketimpangan gender dan marginalisasi suku Aborigin menjadi topik yang paling menarik perhatian.

Melalui kegiatan ini, UM turut mendukung prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5 tentang kesetaraan gender, SDG 10 mengenai pengurangan ketimpangan, serta SDG 17 tentang membangun kemitraan global yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan adanya kolaborasi internasional seperti ini, UM semakin berperan aktif dalam mewujudkan pendidikan inklusif dan berdaya saing global.

Penulis: Akilah Sekar Arum Eka Dharmayasa – Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM

Share it