image_pdf

Ketahanan dan kedaulatan pangan masih menjadi isu hangat di Indonesia. Padahal, Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki banyak sekali bahan pangan lokal dengan sejuta manfaat. Berdasarkan isu tersebut, Universitas Negeri Malang (UM) menggalakkan gerakan tanam ubi jalar ungu yang dilakukan secara massal. Kegiatan ini dilakukan pada hari Senin (20/11) di Kebun Buah UM. Acara tersebut dihadiri oleh Rektor, Wakil Rektor II dan III, para Dekan, serta perwakilan Green Campus UM dari masing-masing fakultas.

Ketua Green Campus UM, Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., menjelaskan bahwa program ini tidak hanya dilakukan di UM saja, namun juga di daerah-daerah yang menjadi sasaran KKN mahasiswa UM. Ubi jalar ungu dipilih menjadi tanaman yang ditanam secara massal karena merupakan salah satu sumber karbohidrat setelah beras, gandum, jagung dan singkong. Hal ini tentu dapat menjadi salah satu taktik menanggulangi krisis pangan dunia akibat cuaca ekstrim dan kebijakan antar negara dalam hal ekspor bahan pangan.

Hal tersebut disetujui oleh Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan bahwa ubi jalar ungu memiliki sejuta potensi, seperti meningkatkan kesehatan mata dan mencegah penyakit kanker. Di Indonesia, tanaman ini sangat mudah dibudidayakan dengan perawatan yang relatif sederhana, tetapi sayangnya pemanfaatan ubi jalar ungu masih sangat minim dilakukan.

“Kenapa Indonesia yang merupakan negara agraris namun untuk bahan pangan saja masih harus impor dari luar negeri? Padahal, di sekitar kita banyak sekali bahan pangan lokal yang banyak manfaatnya, contohnya ubi atau tela ungu ini,” ujarnya.

Rektor UM juga turut menyampaikan bahwa gerakan ini tidak hanya dilakukan semata-mata untuk dikonsumsi saja, tetapi dapat menjadi bagian dari siklus riset UM. Beliau menyampaikan bahwa gerakan tanam ubi jalar ini dapat dikaji dari berbagai bidang keilmuan. 

“Teman-teman dari Prodi Gizi bisa meneliti nutrisi dari bahan pangan lokal ini. Teman-teman Prodi Tata Boga bisa membuat menu makanan dari ubi ungu. Juga teman-teman dari Ilmu Kesehatan Masyarakat dapat meneliti, mengapa masyarakat kita cenderung tidak peduli dengan potensi bahan pangan lokal. Mari kita coba gali dan kembangkan bersama-sama,” tutur Rektor UM.

Rektor UM, Prof. Hariyono secara simbolis menanam ubi jalar ungu di kebun buah UM

Guru Besar Departemen Sejarah UM itu menekankan bahwa riset UM harus berbasis kehidupan sehari-hari dengan memanfaatkan teknologi mutakhir. Keseimbangan antara teknologi dengan problematika kehidupan harus berjalan beriringan agar riset yang dihasilkan bermanfaat bagi masyarakat.

“Saat ini, problematika pangan dunia masih menjadi permasalahan yang sangat rentan. Masyarakat jika lapar akan mudah mengalami gesekan sosial yang dapat memicu kerusuhan. Oleh karena itu, kita sebagai akademisi tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Ini bisa kita lakukan melalui gerakan-gerakan dan riset yang berbasis kehidupan,” tutur Rektor UM.

Terakhir, beliau berharap gerakan menanam ubi jalar ungu secara massal ini dapat bermanfaat bagi warga UM maupun masyarakat luas. “Mudah mudahan apa yang kita lakukan bisa bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan di UM, namun juga ikut mengubah bagaimana perilaku peradaban kita bisa lebih baik, yaitu berdaulat dalam bidang pangan,” pungkasnya.

Kegiatan diakhiri dengan penanaman ubi jalar ungu secara simbolis oleh Rektor UM dan jajarannya yang diawali di Kebun Buah UM. Nantinya, penanaman ubi jalar akan dilakukan secara merata di UM dan desa-desa yang menjadi wilayah KKN mahasiswa UM.

Pewarta: Nawal Kamilah Ismail – Internship Humas UM

Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM