image_pdf

Malang. Universitas Negeri Malang (UM) melakukan pertemuan pada Kamis (15/04) melalui platform Video Conference Zoom Meeting, untuk membahas mengenai rencana UM menyelenggarakan program internasional gelar bersama (joint degree) dan gelar ganda (double degree).  Pertemuan dihadiri langsung oleh Wakil Rektor I Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed., M.Si., Wakil Rektor IV Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd.,  Evi Eliyanah, S.S., M.A., Ph.D, Prof Suminar Setiati Achmadi dari IPB University dan Putri Nailatul Himma dari Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) selaku narasumber serta para Wakil Dekan I dan tim kerja sama luar negeri dari seluruh Fakultas,

Gelar bersama atau joint degree merupakan kerja sama antara dua Universitas yang menghasilkan satu gelar pada program studi dan jenjang yang sama. Sedangkan gelar ganda atau double degree merupakan kerja sama antara dua Universitas yang menghasilkan dua gelar dari dua jenis program studi berbeda di jenjang yang sama.

 “Diharapkan dengan adanya pertemuan ini, para Wakil Dekan I dan tim kerja sama luar negeri Fakultas dapat menyebarluaskan dan menindaklanjuti informasi yang didapat ke dosen yang ada di Fakultas agar dapat berpartisipasi dalam program joint dan double degree.” ujar Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed., M.Si. dalam sambutannya.

Putri Nailatul Himma selaku salah satu narasumber dari Kemendikbud memaparkan apa saja yang menjadi landasan dari kerja sama Joint Program ini.

“Ada 3 jenis kerja sama dalam Joint Program, gelar bersama (joint degree), gelar ganda (double degree) dan gelar ganda percepatan (acceleration). Dasar hukum dari adanya kerja sama telah diatur dalam Permendikbud 14 tahun 2014 pasal 49 ayat 1, 2 dan 3. Dengan tujuan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, produktivitas, kreativitas, inovasi, mutu, dan relevansi pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi untuk peningkatan daya saing bangsa.” jelas Putri Nailatul Himma.

Prof. Suminar juga memaparkan 5 prinsip dasar dalam penyelenggaraan kerja sama. “Yang pertama itu berkontribusi pada peningkatan daya saing bangsa, kemudian kesetaraan dan saling menghormati, menghasilkan nilai tambah, berkenlajutan, serta mempertimbangkan keberagaman kultur lintas-daerah, nasional dan internasional.”

Humas UM